Rabu, 25 April 2012

Logam Golongan 8 (VIII B)


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Ilmu kimia merupakan cabang ilmu pengetahuan alam (IPA) yang secara khusus mempelajari gejala-gejala yang terjadi pada zat dan segala sesuatu yang berkaitan dengan zat, yaitu komposisi, struktur dan sifat, transformasi, dinamika serta energetika zat baik dalam skala mikro maupun makro. Skala mikro yaitu atom-atom, molekul-molekul sedangkan dari skala makro yaitu zat secara umum dalam kehidupan sehari.
Dalam penyusunan makalah ini yaitu menyangkut Kimia Anorganik  dalam hal ini mempelajari  tentang Unsur Tarnsisi khususnya Golongan 8 (VIII B)  yang kiranya dapat bermanfaat bagi kita semua.

1.2  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah :
a.         Karakterisasi Logam Besi (Fe)?
b.         Karakterisasi Logam Rutenium (Ru)?
c.         Karakterisasi Logam Osmium (Os)?

1.3  Tujuan Pembuatan
Adapun tujuan pembuatan dari makalah ini adalah sebagai referensi bagi mahasiswa jurusan kimia dalam mempelajari Kimia Anorganik  yang lebih khususnya tentang Unsur Transisi khususnya Golongan 8 (VIII B)





BAB II
P EMBAHASAN

Unsur-unsur yang termasuk dalam golongan 8 disebut juga dengan unsur golongan transisi atau unsur golongan VIII B. Yang termasuk dalam unsur transisi golongan VIII B ini adalah Besi (Fe), Rutenium (Ru), Osmium (Os), Hasium (Hs), Kobalt (Co), Rodium (Rh), Iridium (Ir), Meitnerium (Mt), Nikel (Ni), Paladium (Pd), Platina (Pt) dan unnunnilium (Uun). Namun unsur yang termasuk golongan 8 hanya Besi (Fe), Rutenium (Ru), Osmium (Os), Hasium (Hs).
2.1    Logam Besi (Fe)
Besi mempunyai simbol Fe dan nomor atom 26. Besi merupakan logam transisi yang berada pada golongan VIII B dan periode 4. Besi adalah logam paling melimpah nomor dua setelah alumunium. Besi adalah logam yang dihasilkan dari bijih besi, dan jarang dijumpai dalam keadaan unsur bebas.
Besi adalah logam yang berasal dari bijih besi (tambang) yang banyak digunakan untuk kehidupan manusia sehari-hari. Selain ditemukan berlimpah di alam, besi  Juga ditemukan di matahari dan bintang. Dalam tabel periodik, besi mempunyai simbol Fe dan nomor atom 26. Besi juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Besi bersifat keras, rapuh, dan umumnya mudah dicampur.
Logam berkilat kekelabuan

Besi adalah logam yang paling banyak dan paling beragam penggunaannya. Hal itu karena beberapa hal, diantaranya:
  Kelimpahan besi di kulit bumi cukup besar
  Pengolahannya relatif mudah dan murah
  Besi mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan dan mudah dimodifikasi
a.      Ciri-ciri Jelas Logam Besi (Fe)
Besi biasa mempunyai 56 ganda atom hidrogen biasa. Besi adalah logam paling banyak, dan dipercayai unsur kimia kesepuluh paling banyak di alam sejagat. Besi juga merupakan unsur paling banyak (menurut jisim, 34.6%) membentuk Bumi; penumpuan besi pada lapisan berlainan di Bumi berbeza antara tinggi peratusannya pada lapisan dalam sehingga 5% pada kerak bumi; terdapat kemungkinan bahawa teras dalam bumi mengandung hablur besi tunggal walaupun ia berkemungkinan sebatian besi dan nikel jumlah besar besi dalam Bumi dijangka menyumbang kepada medan magnet Bumi. Simbolnya adalah Fe ringkasan kepada ferrum, perkataan Latin bagi besi.
Besi adalah logam yang dihasilkan dari bijih besi, dan jarang dijumpai dalam keadaan unsur bebas. Untuk mendapatkan unsur besi, campuran lain mesti disingkir melalui pengurangan kimia. Besi digunakan dalam penghasilan besi waja, yang bukannya unsur tetapi aloi, sebatian logam berlainan (dan sebahagian bukan-logam, terutamanya karbon).
Nukleus besi adalah antara nukleus-nukleus yang mempunyai tenaga pengikat tertinggi per nukleon, dan hanya diatasi oleh isotop nikel 62Ni. Nukleid stabil yang paling banyak di dalam alam semesta adalah 56Fe. Ini merupakan hasil daripada pelakuran nuklear pada bintang. Walaupun perolehan tenaga yang lebih tinggi boleh didapati dengan mensintesis 62Ni, namun proses ini tidak digemari kerana keadaan yang kurang sesuai pada bintang-bintang.
Apabila bintang gergasi mengecut pada penghujung hayatnya, tekanan dalaman dan suhu akan meningkat, membolehkan bintang seterusnya menghasilkan unsur yang lebih berat, walaupun keadaan ini adalah kurang stabil berbanding dengan unsur-unsur pada sekitar nombor jisim 60 ("kumpulan besi"). Ini menjurus kepada berlakunya supernova. Model kosmologi dengan alam sejagat terbuka meramalkan bahawa terdapatnya fasa di mana semua benda akan bertukar menjadi besi, hasil daripada tindak balas pembelahan dan pelakuran yang perlahan.
b.      SifatSifat Logam Besi (Fe)
·      Sifat Fisika
o    Pada suhu kamar berwujud padat, mengkilap dan berwarna keabuabuan.
o    Merupakan logam feromagnetik karena memiliki empat electron tidak berpasangan pada orbital d.
o    Penghantar panas yang baik.
o    Kation logam besi Fe berwarna hijau (Fe2+) dan jingga (Fe3+). Hal ini disebabkan oleh adanya elektron tidak berpasangan dan tingkat energi orbital tidak berbeda jauh. Akibatnya, elektron mudah tereksitasi ke tingkat energi lebih tinggi menimbulkan warna tertentu. Jika senyawa transisi baik padat maupun larutannya tersinari cahaya maka senyawa transisi akan menyerap cahaya pada frekuensi tertentu, sedangkan frekuensi lainnya diteruskan. Cahaya yang diserap akan mengeksitasi elektron ke tingkat energi lebih tinggi dan cahaya yang diteruskan menunjukkan warna senyawa transisi pada keadaan tereksitasi.
o    Sifat-sifat besi yang lain diantaranya :
titik didih                                                      = 3134 K
titik lebur                                                       = 1811 K
massa atom                                                    = 55,845(2) g/mol
konfigurasi electron                                      = [Ar] 3d6 4s2
massa jenis fase padat                                   = 7,86 g/cm³
massa jenis fase cair pada titik lebur            = 6,98 g/cm³
kalor peleburan                                              = 13,81 kJ/mol
kalor penguapan                                            = 340 kJ/mol
Elektronegativitas                                         = 1,83 (skala Pauling)
jari-jari atom                                                  = 140 pm
·      Sifat Kimia
o    Unsur besi  bersifat elektropositif (mudah melepaskan elektron) sehingga bilangan oksidasinya bertanda positif. 
o    Fe dapat memiliki biloks 2, 3, 4, dan 6. Hal ini disebabkan karena perbedaan energy elektron pada subkulit 4s dan 3d cukup kecil, sehingga elektron pada subkulit 3d juga terlepas ketika terjadi ionisasi selain electron pada subkulit 4s.
o    Logam murni besi sangat reaktif secara kimiawi dan mudah terkorosi, khususnya di udara yang lembab atau ketika terdapat peningkatan suhu.
o    Memiliki bentuk allotroik ferit, yakni alfa, beta, gamma dan omega dengan suhu transisi 700, 928, dan 1530oC. Bentuk alfa bersifat magnetik, tapi ketika berubah menjadi beta, sifat magnetnya menghilang meski pola geometris molekul tidak berubah.
o    Mudah bereaksi dengan unsur-unsur non logam seperti halogen, sulfur, pospor, boron, karbon dan silikon.
o    Larut dalam asam- asam mineral encer.
o    Oksidanya bersifat amfoter.
c.       Pembuatan Besi (Fe)
Bijih besi adalah bahan baku utama untuk pembuatan besi kasar, sedangkan besi kasar tersebut adalah bahan baku untuk pembuatan besi tempa, besi tuang dan baja. Bijih besi didapat dari hasil penambangan bijih besi. Sedangkan bahan-bahan lain yang bercampur dengan bijih tersebut selain kotoran yang merugikan antara lain belerang ,pospor silika, tanah liat juga ada kotoran yang menguntungkan antara lain emas, platina, perak. Bijih besi yang umum dijumpai yaitu : Haematit (Fe2O3), Magnetit (Fe3O4), Pyrities (FeS2), Limonite (2Fe2O3.3H2O), Siderite (FeCO3). Beberapa cara pembuatan besi antara lain:
1.         Dalam industri, besi dihasilkan dari bijih, kebanyakan hematit (Fe2O3), melalui reduksi oleh karbon pada suhu 20000C.
2C + O2 → 2 CO
3CO + Fe2O3 → 2Fe + 3CO2
Besi yang dihasilkan dapat digunakan dalam sintesis senyawa-senyawa yang mengandung Fe.
2.         Melalui proses Pirometalurgi Besi
Sejumlah besar proses metalurgi menggunakan suhu tinggi untuk mengubah bijih logam menjadi logam bebas dengan cara reduksi. Penggunaan kalor untuk proses reduksi disebut pirometalurgi. Pirometalurgi diterapkan dalam pengolahan bijih besi. Reduksi besi oksida dilakukan dalam tanur sembur (blast furnace), yang merupakan reaktor kimia dan beroperasi secara terus-menerus.
Campuran material (bijih besi, kokas, dan kapur) dimasukkan ke dalam tanur melalui puncak tanur. Kokas berperan sebagai bahan bakar dan sebagai reduktor. Batu kapur berfungsi sebagai sumber oksida untuk mengikat pengotor yang bersifat asam. Udara panas yang mengandung oksigen disemburkan ke dalam tanur dari bagian bawah untuk membakar kokas. Di dalam tanur, oksigen bereaksi dengan kokas membentuk gas CO.
2C(s) + O2(g) → 2CO(g) ΔH = –221 kJ
Reaksinya melepaskan kalor hingga suhu tanur sekitar 2.300°C. Udara panas juga mengandung uap air yang turut masuk ke dalam tanur dan bereaksi dengan kokas membentuk gas CO dan gas H2.
C(s) + H2O(g) → CO(g) + H2(g) ΔH = +131 kJ
Reaksi kokas dan oksigen bersifat eksoterm, Kalor yang dilepaskan dipakai untuk memanaskan tanur, sedangkan reaksi dengan uap air bersifat endoterm. Oleh karena itu, uap air berguna untuk mengendalikan suhu tanur agar tidak terlalu tinggi (1.900°C). Pada bagian atas tanur ( 1.000°C), bijih besi direduksi oleh gas CO dan H2 (hasil reaksi udara panas dan kokas) membentuk besi tuang. Persamaan reaksinya:
Fe3O4(s) + 4CO(g) → 3Fe(l) + 4CO2(g) ΔH = –15 kJ
Fe3O4(s) + 4H2(g) → 3Fe(l) + 4H2O(g) ΔH = +150 kJ
Batu kapur yang ditambahkan ke dalam tanur, pada 1.000oC terurai menjadi kapur tohor. Kapur ini bekerja mereduksi pengotor yang ada dalam bijih besi, seperti pasir atau oksida fosfor.
CaCO3(s) Δ→ CaO(l) + CO2(g)
CaO(l) + SiO2(l) →CaSiO3(l)
CaO(l) + P2O5(l) →Ca3(PO4)2(l)
Gas CO2 yang dihasilkan dari penguraian batu kapur pada bagian bawah tanur (sekitar 1.900°C) direduksi oleh kokas membentuk gas CO. Persamaan reaksinya:
CO2(g) + C(s) → CO(g) ΔH = +173 kJ
Oleh karena bersifat endoterm, panas di sekitarnya diserap hingga mencapai suhu ± 1.500°C. Besi tuang hasil olahan berkumpul di bagian dasar tanur, bersama-sama terak (pengotor). Oleh karena terak lebih ringan dari besi tuang, terak mengapung di atas besi tuang dan mudah dipisahkan, juga dapat melindungi besi tuang dari oksidasi.
3.      Senyawa- senyawa Besi (Fe)
1.    Tingkat oksidasi < 2
Umumnya membentuk senyawa-senyawa dengan ligan-ligan. Berinteraksi dengan hidrogen dengan ikatan M-HContoh : H2Fe(PF3)4.
2.      Tingkat oksidasi 2
-          Biasanya membentuk senyawaan biner dengan sifat,
-          Biasanya bersifat ionik
-          Oksidanya (contoh : FeO), b ersifat basa.
-          Mampu membentuk kompleks aquo, dengan jalan mereaksikan logam oksida, karbonat dalam larutan asam dan mereduksi katalitik. Kompleks aquo dari logam besi biasanya memberikan warna yang khas.
-          Garam-garam terhidrat dengan anion biasanya mengandung [M(H2O)6)]2-, contoh FeF2.8H2O.
3.              Tingkat Oksidasi 3
Contoh senyawa klorida, bromida, iodida dari besi yang bersifat kovalen, sedangkan senyawa oksidanya seperti Fe2O3 bersifat ionik.
4.                   Tingkat Oksidasi 4
Umumnya dikenal sebagai kompleks fluoro, dan amino okso.
5.         Tingkat Oksidasi  5 
Dikenal dalam kompleks flioro, amon okso, mosalnya CrF5 dan K2FeO4 yang semuanya merupakan zat pengoksida yang kuat.
6.      Kelimpahan (Fe)
Besi merupakan unsur yang ditemukan berlimpah di alam. Juga ditemukan dalam matahari dan bintang lainnya dalam jumlah yang seadanya. Inti bumi diyakini mayoritas unsur penyusunnya adalah besi dan nikel. Besi juga diketahui sebagai unsur yang paling banyak membentuk bumi, yaitu kira-kira 4,7 - 5 % pada kerak bumi.
Kebanyakan besi terdapat dalam batuan dan tanah sebagai oksida besi, seperti oksida besi magnetit (Fe3O4) mengandung besi 65 %, hematite (Fe2O3) mengandung 60 – 75 % besi, limonet (Fe2O3 . H2O) mengandung besi 20 % dan siderit (Fe2CO3). Dalam kehidupan, besi merupakan logam paling biasa digunakan dari pada logam-logam yang lain.
Warna merah pada air disebabkan oleh
kehadiran bijih besi dalam batu
Hal ini disebabkan karena harga yang murah dan kekuatannya yang baik serta penggunaannya yang luas. Bijih  besi yang umum adalah hematit, yang sering terlihat sebagai pasir hitam sepanjang pantai dan muara aliran.
Besi merupakan campuran dari 4 isotop stabil yaitu 54Fe, 56Fe, 57Fe and 58Fe. Kelimpahan semua isotop-isotop Fe di alam adalah 54Fe (5.8%), 56Fe (91.7%), 57Fe (2.2%) dan 58Fe (0.3%). 60Fe adalah radioaktif yang mempunyai waktu paruh yang panjang (1.5 juta tahun). Ada pula sepuluh isotop lainnya yang tidak stabil.
7.      Manfaat Besi (Fe)
Besi merupakan logam paling biasa digunakan di antara semua logam, yaitu mengandung 95% dari semua logam yang dihasilkan di seluruh dunia. Besi amat diperlukan, terutama dalam penggunaan seperti: Rel kereta, Perabotan, Alat-alat pertukangan, Alat transportasi, peralatan perang, peralatan mesin, tiang listrik, penangkal petir, pipa saluran,rumah/ gedung menggunakan besi baja sebagai tiang-tiang penahannya, dan Badan kapal untuk kapal besar.
Manfaat besi ternyata tidak terbatas sebagai bahan pembuatan perlengkapan yang sangat membantu kehidupan manusia, tetapi besi juga memainkan peranan yang istimewa dalam daur kehidupan organisme hidup. Besi merupakan salah satu mikronutrien penting bagi makhluk hidup. Besi sebagian besar terikat dengan stabil dalam logam protein (metalloprotein), karena besi dalam keadaan bebas dapat menyebabkan terbentuknya radikal bebas yang bersifat toksik pada sel.
Besi adalah penyusun utama kelangsungan makhluk hidup dan bekerja sebagai pembawa oksigen dalam hemoglobin. FeSO4 digunakan sebagai sumber mineral besi untuk terapidefisiensi/kekurangan zat besi dan digunakan untuk membuat tinta bubuk. Fe3SO4 digunakan untuk pewarnaan tekstil dan pengetesan aluminium.


8.      Korosi Besi (Fe)
Salah satu kelemahan besi adalah mudah mengalami korosi. Korosi menimbulkan banyak kerugian karena mengurangi umur pakai berbagai barang atau bangunan yang menggunakan besi atau baja. Sebenarnya korosi dapat dicegah dengan mengubah besi menjadi baja tahan karat (stainless steel), akan tetapi proses ini terlalu mahal untuk kebanyakan penggunaan besi.
Korosi besi memerlukan oksigen dan air. Berbagai jenis logam contohnya Zink dan Magnesium dapat melindungi besi dari korosi. Cara-cara pencegahan korosi besi yang akan dibahas berikut ini didasarkan pada dua sifat tersebut.
o    Tin Plating (pelapisan dengan timah).
Kaleng-kaleng kemasan terbuat dari besi yang dilapisi dengan timah. Pelapisan dilakukan secara elektrolisis, yang disebut tin plating. Timah tergolong logam yang tahan karat. Akan tetapi, lapisan timah hanya melindungi besi selama lapisan itu utuh (tanpa cacat). Apabila lapisan timah ada yang rusak, misalnya tergores, maka timah justru mendorong/mempercepat korosi besi.
Hal itu terjadi karena potensial reduksi besi lebih negatif daripada timah. Oleh karena itu, besi yang dilapisi dengan timah akan membentuk suatu sel elektrokimia dengan besi sebagai anode. Dengan demikian, timah mendorong korosi besi. Akan tetapi hal ini justru yang diharapkan, sehingga kaleng-kaleng bekas cepat hancur.
o    Galvanisasi (pelapisan dengan Zink).
Pipa besi, tiang telepon dan berbagai barang lain dilapisi dengan zink. Berbeda dengan timah, zink dapat melindungi besi dari korosi sekalipun lapisannya tidak utuh. Hal ini terjadi karena suatu mekanisme yang disebut perlindungan katode.
Oleh karena potensial reduksi besi lebih positif daripada zink, maka besi yang kontak dengan zink akan membentuk sel elektrokimia dengan besi sebagai katode. Dengan demikian besi terlindungi dan zink yang mengalami oksidasi (berkarat). Badan mobil-mobil baru pada umumnya telah digalvanisasi, sehingga tahan karat.
o    Cromium Plating (pelapisan dengan kromium).
Besi atau baja juga dapat dilapisi dengan kromium untuk memberi lapisan pelindung yang mengkilap, misalnya untuk bumper mobil. Cromium plating juga dilakukan dengan elektrolisis. Sama seperti zink, kromium dapat memberi perlindungan sekalipun lapisan kromium itu ada yang rusak.
o    Sacrificial Protection (pengorbanan anode).
Magnesium adalah logam yang jauh lebih aktif (berarti lebih mudah berkarat) daripada besi. Jika logam magnesium dikontakkan dengan besi, maka magnesium itu akan berkarat tetapi besi tidak. Cara ini digunakan untuk melindungi pipa baja yang ditanam dalam tanah atau badan kapal laut. Secara periodik, batang magnesium harus diganti.
Besi merupakan salah satu unsur paling banyak di Bumi, membentuk 5% daripada kerak Bumi. Kebanyakan besi ini hadir dalam berbagai jenis oksida besi, seperti bahan galian hematit Fe2O3, magnetit , dan takonit. Dalam perindustrian, besi dihasilkan daripada bijih, kebanyakannya hematit (sedikit Fe2O3) dan magnetit (Fe3O4), melalui penurunan oleh karbon pada suhu sekitar 2000 °C.

2.2    Logam Rutenium (Ru)
1.      Sejarah Terbentuknya Rutenium (Ru)
Pada tahun 1827, Berzelius dan Osann menguji residu yang tersisa setelah melarutkan platina kasar dari pegunungan Ural dalam aqua regia. Bila Berzelius tidak menemukan logam-logam yang tidak lazim, sementara Osann menduga bahwa ia telah menemukan tiga logam baru, yang salah-satunya  ia namakan rutenium. Pada tahun 1844, Klaus dikenal oleh khalayak sebagai penemu rutenium dan menunjukkan bahwa rutenium oksida yang didapat Osann sangat tidak murni dan mengandung logam baru. Klaus mendapatkan 6 gram rutenium dari residu  pelarutan platina kasar yang tidak larut dalam auqa regia.
2.      Sumber Rutenium (Ru)
Sebagai anggota dari grup platina, rutenium terdapat di alam dengan anggota grup platina yang lain dalam bijih yang berasal dari pegunungan Ural, dan di Amerika Utara dan Amerika Selatan. Rutenium juga ditemukan bersama logam grup platina dalam jumlah sedikit tapi dihasilkan secara komersial dalam mineral pentlandit (mineral besi-nikel sulfida, (Fe,Ni)9S8) di daerah Sudbury, kawasan penambangan nikel Ontario, dan dalam mineral piroksinit di Afrika Selatan.
3.      Produksi Rutenium (Ru)
Rutenium diisolasi besar-besaran dengan proses kimiawi yang rumit, dengan tahap akhirnya adalah reduksi ammonium rutenium klorida dengan hidrogen, yang menghasilkan bubuk rutenium.  Bubuk ini disatukan dengan tekhnik metalurgi bubuk atau dengan pengelasan busur argon.
4.      Sifat-sifat Rutenium (Ru)
Rutenium adalah logam berwarna putih, keras dan memiliki modifikasi empat Kristal. Tidak mudah kusam pada suhu kamar, tapi teroksidasi  (dengan menghasilkan ledakan. Mudah bereaksi dengan senyawa halogen, basa dan lain-lain. Rutenium dapat dilapisi dengan metode elektro deposisi  atau denganmetode  dekomposisi suhu. Logam ini merupakan pengeras platina dan paladium yang paling efektif, dan membentuk alloy dengan platina atau paladium untuk menghasilkan sifat hambatan listrik yang luar biasa.
Alloy rutenium-molibdenum dilaporkan bersifat superkonduktif pada suhu 10.6K.  Ketahanan korosi pada titanium dapat diperbaiki seratus kali lipat dengan penambahan 0.1% rutenium. Rutenium juga merupakan katalis yang serba guna. Asam sulfida dapat dipecah oleh cahaya dengan menggunakan suspensi partikel CdS yang diisi dengan rutenium oksida. Diduga dapat diterapkan untuk menghilangkan H2S pada pemurnian oli dan proses industri yang lainnya.  Setidaknya, ada delapan bilangan oksidasi yang ditemukan, tapi di antara delapan bilangan tersebut, hanya bilangan +2, +3, +4 yang umum ditemukan. Senyawa rutenium memiliki ciri-ciri yang menyerupai  senyawa kadmium.
Rutenium adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang Ru dan nomor atom 44. Dibawah ini merupakan tabel tentang unsur rutenium.

technetiumrutheniumrhodium
Fe

Ru

Os
Element 1: Hidrogen (H), Other non-metal
Element 2: Helium (He), Noble gas
Element 3: Litium (Li), Alkali metal
Element 4: Berllium (Be), Alkaline earth metal
Element 5: Boron (B), Metalloid
Element 6: Karbon (C), Other non-metal
Element 7: Nitrogen (N), Other non-metal
Element 8: Oxigen (O), Other non-metal
Element 9: Flour (F), Halogen
Element 10: Neon (Ne), Noble gas
Element 11: Natriun (Na), Alkali metal
Element 12: Magnesium (Mg), Alkaline earth metal
Element 13: Aluminium (Al), Other metal
Element 14: Silikon (Si), Metalloid
Element 15: Fosfor (P), Other non-metal
Element 16: Belerang (S), Other non-metal
Element 17: Klorin (Cl), Halogen
Element 18: Argon (Ar), Noble gas
Element 19: Kalium (K), Alkali metal
Element 20: Kalsium (Ca), Alkaline earth metal
Element 21: Skandium (Sc), Transition metal
Element 22: Titanium (Ti), Transition metal
Element 23: Vanadium (V), Transition metal
Element 24: Kromium (Cr), Transition metal
Element 25: Mangan (Mn), Transition metal
Element 26: Besi (Fe), Transition metal
Element 27: Kobal (Co), Transition metal
Element 28: Nikel (Ni), Transition metal
Element 29: Tembaga (Cu), Transition metal
Element 30: Seng (Zn), Transition metal
Element 31: Galium (Ga), Other metal
Element 32: Germanium (Ge), Metalloid
Element 33: Arsen (As), Metalloid
Element 34: Selenium (Se), Other non-metal
Element 35: Bromin (Br), Halogen
Element 36: Kripton (Kr), Noble gas
Element 37: Rubidium (Rb), Alkali metal
Element 38: Stronsium (Sr), Alkaline earth metal
Element 39: Itrium (Y), Transition metal
Element 40: Zirkonium (Zr), Transition metal
Element 41: Niobium (Nb), Transition metal
Element 42: Molibdenum (Mo), Transition metal
Element 43: Teknesium (Tc), Transition metal
Element 44: Rutenium (Ru), Transition metal
Element 45: Rodium (Rh), Transition metal
Element 46: Paladium (Pd), Transition metal
Element 47: Perak (Ag), Transition metal
Element 48: Kadmium (Cd), Transition metal
Element 49: Indium (In), Other metal
Element 50: Seng (Sn), Other metal
Element 51: Antimon (Sb), Metalloid
Element 52: Telurium (Te), Metalloid
Element 53: Yodium (I), Halogen
Element 54: Xenon (Xe), Noble gas
Element 55: Sesium (Cs), Alkali metal
Element 56: Barium (Ba), Alkaline earth metal
Element 57: Lantanum (La), Lanthanoid
Element 58: Serium (Ce), Lanthanoid
Element 59: Praseodimium (Pr), Lanthanoid
Element 60: Neodimium (Nd), Lanthanoid
Element 61: Prometium (Pm), Lanthanoid
Element 62: Samarium (Sm), Lanthanoid
Element 63: Europium (Eu), Lanthanoid
Element 64: Gadolinium (Gd), Lanthanoid
Element 65: Terbium (Tb), Lanthanoid
Element 66: Disprosium (Dy), Lanthanoid
Element 67: Holmium (Ho), Lanthanoid
Element 68: Erbium (Er), Lanthanoid
Element 69: Tulium (Tm), Lanthanoid
Element 70: Iterbium (Yb), Lanthanoid
Element 71: Lutesium (Lu), Lanthanoid
Element 72: Hafnium (Hf), Transition metal
Element 73: Tantalum (Ta), Transition metal
Element 74: Wolfram (W), Transition metal
Element 75: Renium (Re), Transition metal
Element 76: Osmium (Os), Transition metal
Element 77: Iridium (Ir), Transition metal
Element 78: Platina (Pt), Transition metal
Element 79: Emas (Au), Transition metal
Element 80: Raksa (Hg), Transition metal
Element 81: Talium (Tl), Other metal
Element 82: Timbal (Pb), Other metal
Element 83: Bismut (Bi), Other metal
Element 84: Polonium (Po), Metalloid
Element 85: Astatin (At), Halogen
Element 86: Radon (Rn), Noble gas
Element 87: Fransium (Fr), Alkali metal
Element 88: Radium (Ra), Alkaline earth metal
Element 89: Aktinium (Ac), Actinoid
Element 90: Torium (Th), Actinoid
Element 91: Protaktinium (Pa), Actinoid
Element 92: Uranium (U), Actinoid
Element 93: Neptunium (Np), Actinoid
Element 94: Plutonium (Pu), Actinoid
Element 95: Amerisium (Am), Actinoid
Element 96: Kurium (Cm), Actinoid
Element 97: Berkelium (Bk), Actinoid
Element 98: Kalifornium (Cf), Actinoid
Element 99: Einsteinium (Es), Actinoid
Element 100: Fermium (Fm), Actinoid
Element 101: Mendelevium (Md), Actinoid
Element 102: Nobelium (No), Actinoid
Element 103: Lawrensium (Lr), Actinoid
Element 104: Rutherfordium (Rf), Transition metal
Element 105: Dubnium (Db), Transition metal
Element 106: Seaborgium (Sg), Transition metal
Element 107: Bohrium (Bh), Transition metal
Element 108: Hasium (Hs), Transition metal
Element 109: Meitnerium (Mt)
Element 110: Darmstadtium (Ds)
Element 111: Roentgenium (Rg)
Element 112: Kopernisium (Cn), Transition metal
Element 113: Ununtrium (Uut)
Element 114: Ununquadium (Uuq)
Element 115: Ununpentium (Uup)
Element 116: Ununhexium (Uuh)
Element 117: Ununseptium (Uus)
Element 118: Ununoctium (Uuo)
44Ru
Keterangan Umum Unsur
ruthenium, Ru, 44
8, 5, d
silvery white metallic
Ru,44.jpg
101.07(2)  g/mol
[Kr] 4d7 5s1
Jumlah elektron tiap kulit
2, 8, 18, 15, 1
Ciri-ciri fisik
12.45 g/cm³
10.65 g/cm³
2607 K
(2334 °
C, 4233 °F)
4423 K
(4150 °
C, 7502 °F)
38.59 kJ/mol
591.6 kJ/mol
(25 °C) 24.06 J/(mol·K)
P/Pa
1
10
100
1 k
10 k
100 k
pada T/K
2588
2811
3087
3424
3845
4388
Ciri-ciri atom
hexagonal
2, 3, 4, 6, 8
(mildly
acidic oxide)
pertama: 710.2 kJ/mol
ke-2: 1620 kJ/mol
ke-3: 2747 kJ/mol
Jari-jari atom (terhitung)
Lain-lain
(0 °C) 71 nΩ·m
(300 K) 117 W/(m·K)
(25 °C) 6.4 µm/(m·K)
Kecepatan suara (kawat tipis)
(20 °C) 5970 m/s
447 GPa
173 GPa
220 GPa
0.30
6.5
2160 MPa
7440-18-8
Isotop
DE (MeV)
96Ru
5.52%
Ru stabil dengan 52 neutron
97Ru
-
97Tc
0.215, 0.324
-
98Ru
1.88%
Ru stabil dengan 54 neutron
99Ru
12.7%
Ru stabil dengan 55 neutron
100Ru
12.6%
Ru stabil dengan 56 neutron
101Ru
17.0%
Ru stabil dengan 57 neutron
102Ru
31.6%
Ru stabil dengan 58 neutron
103Ru
0.226
103Rh
0.497
-
104Ru
18.7%
Ru stabil dengan 60 neutron
106Ru
0.039
106Rh
Referensi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar